Kurang Indah Apa Lagi?
Alhamdulillah, Thank you Allah, masih memberi ku pelajaran dan ujian paling berharga untuk hati dan hidup ku.
Tidak ada rizki yang tertukar antara 1 dengan yang lain, dan tak ada seorang pun dapat menghentikan rizki yang Allah anugerahkan, dengan cara apapun. Tak ada jodoh yang tak sampai pada pasangannya. Sekuat apapun kita mengejar, tetapi jika bukan lah jodoh kita, maka tak akan pernah berjodoh dengan nya.
30 Nopember 2007 :
Kehilangan pekerjaan, diberhentikan dengan sangat tidak lumrah, dengan sebuah fitnah. Sesungguhnya semua itu cukup membuat aku, utamannya hati ku sangat sedih. Setiap peluh yang aku teteskan untuk perusahaan, kesetiaan yang aku berikan, dibayar dengan fitnahan. Sungguh perih. Dengan kondisi ku yang sedang sakit, difitnah, sementara aku tidak dapat menemui mereka yang telah menfitnah aku untuk mendudukkan semua permasalahan yang ada pada tempatnya, dan menyanggah fitnah yang ada.
Sendiri, aku benar-benar sendiri. Orang tua ku sedang menemani sepupu ku yang menikah di Pekalongan. Sempat aku rasa hancur dan teramat perih hati, saat membaca setiap sms yang aku terima dari mantan pimpinan ku. Innalillahi wa inna ilaihi Raaji’un, sungguh kejam fitnah yang ditimpakan. Untuk melaksanakan shalat saja, aku tak bisa sempurna. Aku hanya bisa dengan duduk di bangku/kursi. Tak ada yang membantu aku, untuk sedikit saja berbagi sedih di hati ku. Dan aku hanya menelan itu semua sendiri, hingga tiba malam hari, saat ku tunaikan shalat Isya’. Aku rasakan ada kekuatan yang menggenggam hati ku, agar ku tak terpuruk. Aku teringat pada Firman Allah Ta’ala yang berbunyi, dibalik kesulitan ada kumudahan, dan sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. Ya, satu-satunya penolong ku adalah Allah.
11 Januari 2008
Terkejutnya aku, saat aku menerima sms dari calon suami ku, yang isinya membatalkan pernikahan kami saat semua yang dibutuhkan sudah siap dan hanya tinggal menunggu saat nya.
Innalillahi Wainna ilaihi Raaji’un. Kembali kata-kata itu yang terucap. Semua yang sudah dipersiapkan dengan matang, harus berhenti dan kembali membuat hati ku tersayat. Hati kecil ku bertanya pada Allah sang penentu, "Allah, mengapa ujian dari-Mu datang silih berganti dengan sangat cepat? Hampir tak ada sela waktu untuk ku bernapas lega".
Ku ingati semua yang telah lalu, dan ku ingat do’a ku pada-Nya, tak ada kata lain selain kata syukur. Pedih di hati, sudah lah pasti, tapi ku tak ingin berlarut dalam kesedihan dan kepedihan yang sesungguhnya tak perlu aku rasakan. Menangisi kehilangan kasih sayang dari seseorang tak lah pantas, karena kasih manusia tiada yang abadi. Yang abadi hanyalah kasih sayang dari Allah. Ku ibaratkan, jika kini hati ku luka dan perih, hanyalah sama perih dengan luka gores yang dapat disembuhkan oleh beberapa tetes betadine, tetapi jika kelak aku sudah menikah, dan atau pun memiliki keturunan kemudian bercerai, akan dalam pedih yang terasa seperti luka terkelupas hingga ke dalam daging atau pun hingga ke tulang. Luka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyembuhkannya. Allah Maha Tahu, sesungguhnya aku tidak lah mampu untuk itu dan semua yang Allah tetapkan dan berikan untuk aku adalah yang terindah.
8 Februari 2008
Subhanallah, dan Alhamdulillah. Itu terucap dari hati dan lisan ku. Bagaimana tidak? Dikala orang lain sulit mendapatkan pekerjaan, aku mendapatkan telpon dari salah 1 perusahaan furniture ratan khusus export, yang menginginkan aku bergabung di perusahaan tersebut tanpa melalui test apapun. Ni’mat Allah yang mana lagi yang tidak indah untuk ku?
11 Februari 2008
Aku mulai bekerja di perusahaan baru tersebut. Subhanallah, aku mendapatkan perlakuan yang sangat baik, diberikan kepercayaan yang demikian besar. Di sini, aku tak lagi mendapatkan cacian dan makian jikan melakukan kesalahan, tetapi dengan teguran. Seperti langit dan bumi dengan perlakuan pimpinan ku dulu. Lalu, adakah alasan untuk aku tak bersyukur atas ni’mat Allah yang indah ini? Kurang indah apa lagi dari semua yang terjadi pada ku? Kurang indah apa lagi, dari ketetapan Allah atas diri ku? Toh aku masih bisa berjalan dengan kaki ku tanpa sebuah/sepasang tongkat, aku masih bisa melihat keindahan ciptaan Allah, aku masih bisa mendengar kicauan burung, dan derai air hujan yang turun basahi bumi, aku masih bisa mengecap aneka jenis makanan, aku masih bisa menulis dengan tangan ku, aku masih bisa menggantukan cita-cita ku dan mengejarnya. Lalu, kenapa aku harus berhenti di sini? Kenapa aku harus menangisi apa yang sudah lalu? Cukuplah apa yang telah terjadi menjadi rambu-rambu untuk ku dalam jalani hari-hari ku dan semoga aku menjalani nya dengan bimbingan, tuntunan dan pimpinan-Nya, amin. Semoga semua pengalaman ini bisa membuat ku menjadi lebih baik dari hari ke hari. Menjadikan aku lebih bijak atas diri ku dan sekeliling ku dan membuat aku manjadi bermanfaat untuk orang lain, amin.
Allah, terima kasih telah Engkau dekatkan aku dengan seorang "kakak" dan "adik-adik" yang dapat menjadi tempat ku berbagi. Thanks Mba Ernayu, yang dengan tulus dan penuh kasih sayang dan cinta mau berbagi hati dengan ku. Thanks untuk Inne dan Adi "Jinjit Pottery", yang mau jadi bahu untuk "Mbak mu" ini menangis. Adek Gesti yang jauh di Jepang, meski jarak yang membentang di antara kita begitu jauh tetapi tak membuat kasih sayang antara kita (kakak & adik) menjadi jauh, tetapi sebaliknya, kasih sayang di antara kita begitu dekat. Adek, thanks, meski jauh, adek masih mau menyempatkan diri untuk Telp dan berbagi hati dengan "kakak". Thanks alot, Semoga Allah memberikan ganjaran yang berlipat untuk semua yang telah membantu ku, amin.
Entries (RSS)