Smile …
Sebuah kata kerja yang sederhana, tetapi mengerjakannya tidak sederhana. Mengapa?
Senyum bisa dilakukan oleh siapapun, tetapi senyum yang sesungguhnya adalah senyum yang dapat menjadi obat, bagi yang tersenyum dan bagi yang diberikan senyuman. Ya,… senyuman yang lahir dari ketulusan hati yang hidup dan bersih. Hati yang di dalamnya tak ada rasa iri, dengki, benci, dll. Hati yang hidup dan terbebas dari bisikan syetan. Hati yang merindukan cucuran cinta Allah semata. Hati yang merindukan kasih sayang dari sesama karena Allah Swt.

Bila ku lihat foto yang terpampang di depan FS ku, aku merasa aku sudah merugi. Dulu aku dapat tersenyum demikian tulus dan tanpa beban. Sekarang seperti ada yang megganjal di hati ku. Apakah ini hanya perasaan ku saja atau memang aku sudah berubah? Dan sayangnya aku berubah ke arah yang tidak lebih baik dari sebelum. Yup, aku harus bisa kembali tersenyum dengan penuh ketulusan. Setidaknya, untuk menghidupkan hati ku, untuk singkirkan sifat buruk dari hati ku, untuk bersih kan hati ku dari syakwa sangka, untuk bisa menerima semua ketetapan Allah dengan ikhlas. Ya,… aku harus bisa. Laa Tahzan, buku yang begitu baik. Yang aku bisa aku jadikan tempat untuk aku bercermin, adakah diri ku telah terperosok karena kekotoran hati ku atau aku masih bertahan untuk tetap menjaga kebersihan hati ku. Buku yang disetiap alineanya penuh nilai atau pun pelajaran hidup. Pelajaran yang sangat berharga. Ya… Ingat selalu Laa Tahzan : Jangan Bersedih….

Aku harus memulai untuk memberbaiki diri, mulai dari niat yang tulus untuk membersihkan hati dan menjaga hidupnya hati ku. Lalu sertakan dengan percaya diri, dan senyum tulus yang harus terus mengembang dihati ku. Ya… Senyum Sedekah Jariyah, ‘… Meski engkau hanya menemui saudara mu dengan wajah berseri’. Al-Hadits. Ya, aku harus menemui saudara/i ku dengan wajah yang berseri. Harus, dan aku harus memulai kembali sejak hari ini…  SENYUM….
Keep Smile…

Leave a Reply